Selasa, 22 Maret 2011

Djogdja Tempoe Doeloe Bagian 1

Pada masa silam Yogyakarta, atau dulu dikenal dengan nama Ngayogyakarta Hadingrat sebuah "negara jawa" sebelum Republik Indonesia berdiri, ada beragam jenis bangunan, yang sekarang dari beragam jenis bangunan itu tidak lagi bisa dijumpai karena sudah runtuh atau diruntuhkan dan sama sekali tidak berbekas. Rubrik "Djogdja Tempo Doeloe" mencoba mengetengahkan model jenis-jenis simbol kebudayaan baik berupa bangunan dan yang lain dalam bentuk dokumentasi foto. Melalui ruibrik ini, ingatan publik kembali akan dibuka, atau setidaknya mengisi kembali ingatan kolektif. Tentu dokumentasi bangunan-bangunan yang dihadirkan disini tidak terbatas yang dulu pernah ada dan sekarang lenyap,. namun juga yang dulu pernah ada dan sekarang masih ada, tetapi telah mengalami perubahan.

Selamat menikmati.


MODEL KARNAVAL TAHUN 1937



MODEL KARNAVAL TAHUN 1937




MODEL KARNAVAL TAHUN 1937
Ketika seseorang dikuasai, dijajah, ia tidak kuasa apa-apa. Demikian pun dengan keberadaan suatu bangsa. Indonesia yang masih dikuasai Belanda juga tidak bisa apa-apa. Dalam rentang sejarahnya yang panjang yang di dalamnya juga berisi catatan-catatan tentang perlawanan, semuanya kandas tiada hasil. Kelihaian Belanda dalam bermain strategi baik perang maupun politik dan bahkan juga sosial kultural, mampu mencabik-cabik dan melumpuhkan bangsa Indonesia yang penduduknya jauh lebih besar serta wilayah geografisnya juga jauh lebih luas.
Bangsa pribumi dibuat sedemikian rupa sehingga mengalami rasa minder, asor, rendah di hadapan bangsa kulit putih, Belanda. Kepercayaan diri menjadi hilang. Bangsa inlander dibuat menjadi “hamba-hamba” sahaya yang hanya bisa bilang,”Inggih Den. Sendika dhawuh. Dherek karsa paduka.” Sekalipun kemauan sang penjajah bendara Tuan Belanda itu merugikan bangsa baik secara intelektual, material, kultural, dan sebagainya.
Sebuah foto berikut menunjukkan peristiwa karnaval yang terjadi di Jogja pada tahun 1937, tepatnya pada bulan Januari. Karnaval ini dilakukan sebagai wujud untuk memeriahkan atau merayakan pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard (dinasti penguasa Kerajaan Belanda). Pada sisi ini kelihatan bahwa bangsa pribumi (Jogja) waktu itu tidak bisa tidak melakukan perayaan yang demikian. Jika bangsa pribumi tidak melakukan hal demikian mungkin bisa dianggap ”mbalela” pada Belanda yang konsekuensinya bisa macam-macam.
Karnaval itu sebagai bentuk perayaan terhadap pernikahan keluarga Kerajaan Belanda dapatlah dianggap sebagai bentuk kegiatan puja-puji. Dengan puja-puji maka sang Tuan Penjajah bisa senang hatinya. Lunak hatinya dan tidak menimpakan marah pada bangsa yang dianggap sebagai hamba sahaya.
Perhatikan gaya berpakaian peserta karnaval waktu itu. Ada gadis-gadis yang bergaya modern (dengan mengenakan rok), tetapi ada pula gadis-gadis yang berpakaian tradisional (kebaya dan jarit). Mungkin saat melakukan hal demikian yang ada di dalam diri para pelaku adalah kegembiraan semata. Mereka tidak sadar bahwa hal demikian dapat menjadi penegasan siapa Belanda siapa bangsa inlander terjajah. Siapa lebih superior, siapa inferior.





FOTO AKSI PASUKAN TERJUN PAYUNG BELANDA 1948


FOTO AKSI PASUKAN TERJUN PAYUNG BELANDA 1948




FOTO AKSI PASUKAN TERJUN PAYUNG BELANDA 1948
Aksi Polisionil II demikian Belanda menyebut aksi dirinya dan kita menyebutnya sebagai Agresi Militer Belanda II telah meninggalkan catatan sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia. Juga bagi Yogyakarta yang menjadi salah satu sasaran utama pihak Belanda. Aksi-aksi militer Belanda itu meskipun mendapatkan perlawanan, namun perlawanannya kurang berimbang mengingat persenjataan milik tentara dan gerilyawan waktu itu tidak sebanding dengan milik Belanda.
Aksi Polisionil II di Jogja di antaranya dilakukan Belanda dengan menyerbu Bandara Maguwo. Pasukan terjun payung Belanda diterjunkan di kancah ini untuk merebut Bandara Maguwo karena tempat ini merupakan tempat yang strategis untuk mobilitas pasukan. Aksi ini dilakukan tanggal 19 Desember 1948. Lapangan terbang atau Bandara Maguwo memang bisa dikuasai Belanda saat itu. Semua pejuang menyingkir dari kota dan melanjutkan perlawanan dengan gerilya di pinggiran kota.
Usai terjun di Lapangan Maguwo dengan gagah dan heroiknya pasukan terjun payung Belanda ini berfoto bersama. Foto kenang-kenangan untuk sebuah kemenangan perebutan lapangan terbang. Mungkin demikian pemikiran yang ada di dalam diri mereka. Tampak dalam foto tersebut tulisan Yogyakarta dalam ejaan atau gaya lama.
Perang sekalipun sarat ancaman bahaya maut, namun di sela-selanya sering pula terselip kejadian yang seolah tampak biasa saja. Foto yang disajikan di sini tampak bahwa seolah mereka tidak sedang dalam kondisi berperang. Tampak wajah santai, tertawa lepas dan merasa seolah tidak ada bahaya apa pun yang mengancam diri mereka. Mungkin kemenangan memang membawa suasana seperti yang diekspresikan pasukan terjun payung (pasukan udara) Belanda ini.




TETEG SEPUR TUGU TAHUN 1936


TETEG SEPUR TUGU TAHUN 1936




TETEG SEPUR TUGU TAHUN 1936
Teteg atau palang pintu pengaman persimpangan jalan biasa dengan jalan kereta api merupakan system pengamanan di dunia perlalulintasan, khususnya transportasi kereta api. Bagi masyarakat Jogja nama Teteg Stasiun Tugu atau sering disebut Teteg Tugu sudah demikian dikenal. Teteg Tugu ini keletakannya berada di depan Stasiun Tugu yang memiliki arah hadap ke timur. Keletakan Teteg Tugu sekaligus menjadi pembatas antara Jalan Malioboro di sisi selatan teteg dengan Jl. P. Mangkubumi di sisi utara teteg.
Dulu, ketika penduduk Jogja belum sepadat sekarang. Demikian pula kondisi lalu lintas belum semacet dan semrawut seperti sekarang, jalur Jl. P. Mangkubumi-Malioboro masih diberlakukan lalu lintas dua jalur. Jadi, jika kita pergi ke Alun-alun dari Tugu Jogja kita bisa berkendara ke selatan melewati Jl. P Mangkubumi-Malioboro dan kembali atau pulang dengan menggunakan jalur yang sama dengan arah yang berlawanan (Malioboro-P. Mangkubumi). Oleh karena jalan raya tersebut memotong lurus rel kereta api sehingga membentuk perlintasan, maka perlintasan jalan kereta api di depan Stasiun Tugu yang memotong jalan raya P. Mangkubumi-Malioboro itu perlu diberi pengamanan. Untuk itulah pada masa itu dibuatkan pintu pengaman perlintasan kereta api yang kondang dengan nama Teteg Sepur Tugu ini.
Dulu cara buka-tutup teteg ini dengan diangkat dan diturunkan. Kini sistem buka-tutup teteg ini dengan sistem dorong/tarik. Orang pun tidak bisa lagi menggunakan ruas jalan yang memotong rel kereta di depan Stasiun Tugu ini secara dua arah. Bahkan untuk satu arah pun orang harus membelokkan kendaraannya ke Jalan Kleringan lebih dulu sebelum masuk ke Malioboro.
Foto berikut menunjukkan tentang kondisi atau suasana Teteg Sepur Tugu pada tahun 1930-an. Kita bisa menyimak betapa jalan di kanan kiri teteg masih kelihatan sepi, tenang, dan nyaman. Suasana yang terekam dalam foto itu mengesankan ketenangan dan kenyamanan pusat kota Jogja waktu itu. Kendaraan yang tampak dalam foto hanya berupa andong. Kendaraan bermesin bahkan tidak kelihatan dalam foto itu. Kerumunan orang juga tidak kelihatan. Benar-benar lengang. Bisakah kita membayangkan Malioboro yang lengang di waktu sekarang ? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan yang ada dan hanya berhenti di angan untuk saat ini.




BANGSAL RAWAT INAP RUMAH SAKIT DI JOGJA TAHUN 1930-AN



BANGSAL RAWAT INAP RUMAH SAKIT DI JOGJA TAHUN 1930-AN




BANGSAL RAWAT INAP RUMAH SAKIT DI JOGJA TAHUN 1930-AN
Tidak bisa dipungkiri bahwa berdirinya rumah sakit di Indonesia (di kala itu bernama Hindia Belanda) yang dikelola secara profesional dipelopori oleh bangsa kulit putih, Belanda. Untuk wilayah Yogyakarta, boleh dikatakan Rumah Sakit Panti Rapih merupakan rumah sakit dengan bilangan umur tua atau bahkan paling tua. Rumah sakit ini berdiri pertengahan Agustus 1929. Rumah sakit ini diberkati oleh Mgr. A.P.F. van Velse, SJ. Semula rumah sakit ini diberi nama Rumah Sakit Onder de Bogen (di bawah lingkungan gereja).
Keberadaan rumah sakit ini sangat membantu kesehatan dan penyembuhan banyak orang, khususnya di lingkungan Yogyakarta waktu itu. Pelayanan yang diberikan tanpa memandang suku, golongan, dan agama menjadikan rumah sakit ini menjadi andalan hampir semua orang di zamannya. Pada masa perjuangan pun rumah sakit ini banyak merawat para pejuang yang terluka. Demikian pun Jenderal Soedirman juga pernah dirawat di rumah sakit ini dan beliau pernah meninggalkan sebuah kenang-kenangan berupa puisi untuk rumah sakit ini.
Berikut ini adalah gambar salah satu ruang atau bangsal rawat inap di dalam rumah Rumah Sakit Panti Rapih. Gambar atau foto ini diambil pada kisaran tahun 1930-an. Tampak sekali bahwa plafon atau langit-langit rumah yang terdapat dalam bangsal rawat inap dibuat tinggi sehingga sangat memungkinkan untuk menampung udara (oksigen) sebanyak-banyaknya. Desain ruang yang demikian menyebabkan udara di dalam bangsal akan terasa segar dan sejuk. Perancangan yang demikian itu telah sangat dipahami oleh orang Belanda terhadap daerah tropis yang hangat-panas.
Padahal untuk zaman itu masih demikian banyak tumbuhan/tanaman besar-kecil. Kendaraan bermesin belum banyak. Penduduk belum banyak. Lalu lintas sama sekali tidak semrawut apalagi kacau. Namun bangsa Belanda telah berhitung masak-masak dalam setiap langkah pembangunannya. Berhitung masak-masak akan apa yang dilakukan dan dibuatnya. Sudah berpikir untuk mengantisipasi datangnya kegerahan atau kesumukan yang dapat ditimbulkan akibat desain rumah atau hunian yang kurang cermat. Padahal sungguh, waktu itu Yogyakarta masih sangat sejuk-adem-semilir-hijau.
Perhatikan juga lantainya yang kelihatan bersih mengkilap. Dinding kelihatan bersih. Dipan, selimut ditata demikian rapi dan bersih. Kondisi yang demikian untuk ukuran di masa itu tentu sudah merupakan sebagai sesuatu yang luar biasa mengingat di zaman itu kesadaran akan kesehatan, kerapian, kenyamanan masih dapat dikatakan minim.
Kita bisa membandingkan dengan desain atau kondisi ruang-ruang bangsal di rumah sakit-rumah sakit saat ini. Mungkin sudah relatif sulit ditemukan desain bangsal atau ruang yang lega seperti dalam foto tersebut. Hal demikian dapat terjadi oleh karena terbatasnya dana, lahan, atau ruang yang memang terasa kian menyempit dengan bertambahnya jumlah penduduk yang mungkin hampir tanpa kendali.




Djogdja PENYAKIT CACINGAN DI JOGJA TAHUN 1900-AN


PENYAKIT CACINGAN DI JOGJA TAHUN 1900-AN




PENYAKIT CACINGAN DI JOGJA TAHUN 1900-AN
Penyakit cacingan pernah menjadi perhatian besar pemerintah kolonial Belanda di masa lalu. Paling tidak tahun 1887 pemerintah kolonial Belanda menemukan penyakit cacingan yang menjangkiti manusia di negeri jajahannya, Nederlandsch-Indie. Pemerintah kolonial menemukan kasus itu di Pulau Sumatra, khususnya pada pekerja-pekerja tambang di Sawah Lunto. Diduga penyakit cacingan yang disebabkan oleh jenis cacing Ankylostoma duodenale dan Ankylostoma americanus ini dibawa dan ditularkan oleh para pekerja tambang yang didatangkan dari Jawa, Madura, dan Kalimantan.
Ankylostoma adalah nama lain dari cacing tambang. Kecuali jenis cacing itu sebenarnya pada masa itu (bahkan hingga kini) ada penyakit cacingan lain yang disebabkan oleh cacing jenis lain yakni cacing kremi (Oksiuris) dan cacing gelang. Semua jenis cacing ini menyebabkan manusia yang terinfeksi terserang anemia berat. Mereka yang terinfeksi umumnya akan menderita rasa letih, lesu, lelah, lemah yang berat.
Cacing-cacing tersebut umumnya menyukai tempat-tempat yang lembab sebagai tempat perkembangbiakannya. Cacing-cacing tersebut bisa masuk atau menginfeksi manusia melalui minuman, makanan, maupun lubang pori-pori kulit. Umumnya cacing masuk ke tubuh manusia ketika masih berbentuk telur maupun larva.
Penyebaran cacing-cacing ini dipicu oleh ketidaktahuan pemeliharaan sanitasi diri dan lingkungan. Penggunaan pupuk yang berasal dari kotoran manusia dapat memicu persebaran penyakit ini. Demikian pula kebiasaan BAB di sungai, memendam di tanah, serta membuat WC hanya beruba lubang di tanah dapat memicu persebaran penyakit ini. Tampaknya kebiasaan BAB semacam itu hingga kini masih dilakukan banyak orang (masyarakat) di negeri kita.
Berikut ini adalah contoh berupa foto dari orang-orang yang terjangkit penyakit cacingan di zaman kolonial. Foto kemungkinan dibuat pada tahun-tahun 1900-an. Orang-orang yang terjangkit penyakit cacingan ini berasal dari Jogja bagian barat. Kemungkinan adalah wilayah Kulon Progo. Perhatikan cara mereka berpakaian. Perhatikan pula model potongan rambutnya. Tampaknya model pakaian dan potongan rambut seperti dalam foto adalah sesuatu yang biasa di masa lalu. Perhatikan pula ekspresi wajah mereka. Mungkin mereka telah mengalami apa yang disebut sebagai lesu, letih, lemah, tak bertenaga akibat serangan penyakit cacingan di dalam tubuhnya.




POSTER PERJUANGAN DI TAHUN 1949


POSTER PERJUANGAN DI TAHUN 1949




POSTER PERJUANGAN DI TAHUN 1949
Menjelang Serangan Umum 1 Maret 1949 rakyat Yogyakarta berusaha melakukan konsolidasi dan penyatuan gerakan. Untuk itu hubungan yang erat dan padu antara pimpinan dan rakyat wajib digalang dengan baik. Kerjasama yang padu akan menghasilkan sesuatu yang kuat dan lebih memungkinkan untuk mencapai hasil maksimal.
Untuk itu pula menjelang serangan itu dilakukan, di berbagai tempat disebarkan poster untuk menyemangati gerakan rakyat Jogja. Saat itu Sri Sultan Hamengku Buwana IX merupakan figur yang menjadi panutan bagi semua rakyat Jogja. Apa saja yang menjadi kebijakan Sultan HB IX selalu dipatuhi dan dilaksanakan rakyat Jogja. Pendeknya, Sultan HB IX adalah kiblat atau nafas dari semua gerakan rakyat Jogja waktu itu.
Tidak mustahil jika sosoknya menjadi figur yang ”sangat laku” untuk menggalang perjuangan rakyat. Gambar Sultan HB IX pun digunakan untuk membuat poster yang berisi ajakan untuk mempertahankan kemerdekaan, melawan penjajah dengan berani dan yakin. Gambar di samping menunjukkan bagaimana sederhananya poster yang dibuat zaman itu. Poster hanya dibuat dalam dua warna. Poster dibuat di atas kertas dengan huruf cetak yang tidak sempurna. Demikian pula gambar Sultan HB IX dalam poster tersebut tampak sederhana dan posisi tangan yang kaku.
Akan tetapi bukan efek visual yang indah yang pertama-tama disasar oleh pembuat poster. Efek yang sugestif yang membujuk atau mengajak untuk bergeraklah yang terasa begitu dalam poster ini. Gambar Sultan HB IX di dalam poster tersebut memberi sugesti yang kuat bahwa ajakan untuk berjuang itu sepertinya memang kehendak dari Sultan HB IX. Dengan demikian rakyat Jogja yakin dan percaya bahwa Sultan HB IX berdiri penuh di barisan rakyat. Mendukung, mengawaki, dan menyelenggarakan perjuangan itu sendiri.
Poster ini mungkin memang tidak memberikan efek keindahan, tetapi poster ini telah menampilkan ruh, semangat, dan greget untuk bertindak, untuk melakukan sesuatu. Bandingkan poster yang demikian ini dengan poster-poster yang bertebaran bak takut tidak mendapatkan tempat di ruang publik Jogja.




ROMUSHA DI JOGJA TAHUN 1943-AN


ROMUSHA DI JOGJA TAHUN 1943-AN




ROMUSHA DI JOGJA TAHUN 1943-AN
Berikut ini adalah gambar atau foto tentang romusha yang terjadi di Yogyakarta. Romusha atau kerja paksa untuk proyek-proyek kemiliteran Jepang di berbagai tempat (negara) telah menimbulkan banyak kesengsaraan atau penderitaan. Untuk rakyat Indonesia waktu itu, bisa dikatakan bahwa mereka sampai tidak mampu membeli makanan pokok sekalipun. Lebih-lebih pakaian. Tidak mengherankan jika pada masa itu banyak orang kelaparan, gila, bahkan meninggal karena tidak kuat menahan derita. Pakaian dari karung goni merupakan pakaian yang umum digunakan pada masa itu. Wabah penyakit seperti diare, kudis, kolera, tifus, desentri merupakan penderitaan yang umum terjadi waktu itu. Orang benar-benar terpaksa menjalani kehidupan yang sangat primitif karena tiadanya sesuatu yang bisa dikenakan, dimakan, pengobatan, dan sebagainya.
Foto ini sekilas tampak ”hanya” seperti gambaran orang bergotong royong atau bekerja bakti biasa. Akan tetapi sesungguhnya foto ini menggambarkan orang-orang yang menderita karena adanya program romusha.
Penderitaan akibat romusha yang terjadi di Yogyakarta ini pada waktu itu turut membuat Sultan Hamnegku Buwana IX prihatin. Untuk meringankan penderitaan rakyat Yogyakarta Sultan Hamengku Buwana IX membuat proyek saluran irigasi yang dinamakan Selokan Mataram. Proyek ini mengalihkan tenaga kerja yang hendak diambil Jepang untuk romusha menjadi tenaga kerja yang digunakan untuk membangun daerahnya sendiri (Yogyakarta). Proyek Selokan Mataram ini berhasil menghubungkan Kali Progo dan Kali Opak. Dengan demikian rakyat Yogyakarta cukup tertolong dengan hal itu.




PASAR KLITHIKAN BERINGHARJO TAHUN 1940-AN


PASAR KLITHIKAN BERINGHARJO TAHUN 1940-AN




PASAR KLITHIKAN BERINGHARJO TAHUN 1940-AN
Pasar loak bisa ditemukan di banyak daerah/negara. Pasar dengan objek dagangan berupa barang bekas ini entah sejak zaman kapan tetap memiliki konsumennya sendiri. Maklum di zaman apa pun selalu ada orang susah. Orang yang daya belinya terbatas. Selain itu banyak juga orang yang memiliki jiwa-jiwa eksentrik. Untuk yang disebut terakhir ada beberapa di antara mereka yang menyukai barang-barang kuno atau barang antik yang pada zaman baru tidak ada atau tidak dibuat lagi. Pasar loak sering dianggap bisa memenuhi kebutuhan para konsumen yang demikian itu.
Saat Indonesia dilanad krisi moneter tahun 2007, mengakibatkan pasar loak berkembang demikian pesat. Alun-alun Selatan Jogja menjadi salah satu ruang yang kemudian disasar oleh para pedagang barang loakan. Pasar loak seperti ini oleh orang Jogja dinamakan pasar klithikan.
Disebut sebagai pasar klithikan karena pada masa lalu barang yang dijualnya umumnya bernilai rendah secara ekonomi. Selain itu mayoritas barang yang dijual terbuat dari logam, kaca, atau keramik sehingga jika benda-benda atau barang-barang itu dibongkar-muat akan menimbulkan bunyi klithik-klithik akibat perbenturan dua barang atau lebih di dalamnya.
Lorong atau gang di sisi utara Pasar beringharjo merupakan ruang yang dijadikan sebagai pasar loak atau pasar klithikan sejak lama. Jauh sebelum pasar klithikan menyebar ke berbagai tempat seperti Alun-alun Selatan, Jejeran, Bantul, Jl. Mangkubumi, Wirobrajan, dan sebagainya, sisi utara Pasar Beringharjo telah menjadi lorong pasar barang bekas atau klithikan. Di masa lalu hampir semua barang bisa didapatkan di tempat ini. Mulai dari aneka macam suku cadang kendaraan, benda elektronik, sepatu, pakaian, pecah belah, uang kuno, senjata tajam, gambar/foto kuno, kaset, buku kuno, hingga alat-alat olah raga.
Berikut ini disajikan foto pasar loak/klithikan di Pasar Beringharjo. Foto ini dibuat sekitar tahun 45-50-an. Saat itu kondisi sosial-ekonomi-politik-keamanan Indonesia (termasuk Jogja) belum bisa dibilang stabil dan baik. Banyak orang miskin. Kehadiran pasar loak semacam itu dirasakan sangat membantu. Tersedianya barang dengan harga murah (sekalipun bekas) menjadikan pasar loak menjadi jujugan orang-orang berkantong cekak.
Di masa-masa awal tumbuhnya negara Indonesia, pasar semacam itu menjadi sangat berarti. Simak saja situasi dalam foto tersebut. Kerumunan dan semangat orang yang berkerumun tampak terpancar dari wajah-wajah mereka. Semangat untuk segera mendapatkan uang dari hasil berjualan di satu sisi dan semangat untuk mendapatkan barang dengan harga murah di satu sisi lainnya.




MALIOBORO TAHUN 1948


MALIOBORO TAHUN 1948




MALIOBORO TAHUN 1948
Enam puluh dua tahun yang lalu kondisi Malioboro yang menjadi pusat atau jantung kota Yogyakarta masih kelihatan sangat lengang. Memang telah banyak toko, kios, atau pedagang kaki lima. Namun keadaannya sungguh sangat berbeda dengan kondisi sekerang yang hampir selalu macet dan sangat padat oleh pedagang dan kendaraan parkir. Lebih-lebih, seperti gambar berikut, suasana yang disajikan adalah suasana ketika pasukan militer Belanda melakukan agresinya yang kedua pada tanggal 19 Desember 1948.
Tampak dalam gambar tiga personil militer Belanda berdiri di atas trotoar Malioboro di depan deretan toko dan pedagang kaki lima. Tampak bahwa trotoar di depan toko-toko itu masih terbuka (belum beratap-menyatu dengan atap toko seperti sekarang). Jalan Malioboro yang tampak dalam gambar itu benar-benar lengang kecuali terisi oleh para pedagang yang berkegiatan di sisi-sisi jalan. Barangkali orang-orang Yogyakarta waktu itu takut memasuki jantung kota yang telah diduduki Belanda. Mereka (termasuk para gerilyawan) memilih berdiam di luar kota.
Kelengangan Malioboro seperti dalam gambar itu hanya tinggal kenangan. Kini Malioboro menjadi salah satu pusat bisnis dengan perputaran uang sangat besar untuk ukuran kota Yogyakarta. Ada banyak orang, organisasi, kelompok atau lembaga yang menggunakan kawasan Malioboro untuk menyelenggarakan berbagai kepentingan dan hajat hidupnya. Malioboro ibarat gula yang menarik sekian banyak orang untuk turut menikmati manisnya. Tidak aneh jika kawasan yang tidak terlampau luas ini menjadi demikian padat dan menjadi arena pembuangan gas dari knalpot dengan intensitas yang sangat tinggi di Yogyakarta.
Malioboro sejak dulu telah menjadi kawasan yang cukup istimewa bagi Yogyakarta. Tinggal kita bisa merawat dan mengelolanya dengan baik atau tidak. Jika tidak, tentu Malioboro akan menjadi salah satu citra buruk bagi Yogyakarta.




GADIS JOGJA MASUK FUJINKAI 1944


GADIS JOGJA MASUK FUJINKAI 1944




GADIS JOGJA MASUK FUJINKAI 1944
Masuknya Jepang ke Indonesia tahun 1942 telah menguras habis hampir seluruh sumber daya alam dan manusia Indonesia. Tidak terkecuali bagi Jogja. Tenaga pria dikerahkan sebagai cadangan tenaga prajurit perang, bantuan tempur dan teknis, logistic, kurir, penyelamatan korban perang, dan lain-lain. Tidak ketinggalan pula tenaga wanita pun dikerahkan.
Gadis-gadis dikerahkan dalam perkumpulan perempuan yang disebut fujinkai. Mereka ini ditugaskan di garis belakang untuk mengelola dapur umum, merawat korban perang, menanam pohon kapas, jarak, dan padi serta berbagai pekerjaan yang erat kaitannya dengan kegiatan kaum wanita. Mereka juga dilatih baris-berbaris. Bahkan juga bermain senjata seperti pedang dan bambu runcing. Organisasi ini dilibatkan dalam kegiatan semi militer.
Organisasi fujinkai di Jogja pernah dipimpin oleh BRA Hadikusumo dan dibantu oleh BRA Kusdarinah dengan penasihat GKR Dewi dan Ny. Prawironegoro. Organisasi perempuan ini didirikan di beberapa kecamatan di dalam kota seperti Kecamatan Keraton, Paku Alaman, dan Tugu.
Gadis-gadis dalam fujinkai ini diberi pelajaran tentang kesehatan, rumah tangga, kerajinan, dan olah raga. Mereka diterjunkan ke desa-desa untuk meringankan beban ekonomi masyarakat dengan melatih kerajinan tangan, meningkatkan produksi pertanian, industri rumah tangga, dan lain-lain.
Gambar di samping memperlihatkan bagaimana gadis-gadis yang masuk dalam organisasi fujinkai itu berlatih baris-berbaris. Pelatihan itu sendiri dimulai pada awal Agustus 1944. Rasanya memang agak lucu melihat gadis-gadis latihan baris-berbaris dengan pakaian tradisional Jawa mereka. Kebaya dan jarit tampaknya kurang klop dipakai untuk latihan semacam itu. Akan tetapi di tahun-tahun 40-an hal semacam itu bukan merupakan pemandangan yang aneh. Hal itu lumrah dan biasa-biasa saja.
Apa yang dapat Anda bayangkan jika para gadis dalam pakaian seperti harus berlari kencang karena kejaran musuh ? Mungkinkah mereka akan dapat bergerak dengan bebas dan lincah ? Tentu bagi kita sekarang hal demikian sulit dibayangkan.
Tampak bahwa latihan yang dilakukan oleh para gadis itu dilakukan dengan penuh semangat dan sepenuh hati. Barangkali di masa itu mereka tidak atau belum sadar bahwa mereka didayagunakan oleh Jepang untuk kepentingan atau keuntungan Jepang. Akan tetapi di balik itu ada hikmah juga bahwa mereka menjadi memperoleh pengalaman baru yang mungkin pada waktu berikutnya justru memajukan hidup mereka. Memajukan kehidupan negaranya.




KERUMUNAN ORANG PADA PERESMIAN JEMBATAN SUNGAI SERANG, KULON PROGO TAHUN 1925


KERUMUNAN ORANG PADA PERESMIAN JEMBATAN SUNGAI SERANG, KULON PROGO TAHUN 1925




KERUMUNAN ORANG PADA PERESMIAN JEMBATAN SUNGAI SERANG, KULON PROGO TAHUN 1925
Sarana perhubungan demikian penting. Itu sebabnya mengapa Belanda demikian getol membangun prasarana fisik semacam jembatan. Entah itu diperuntukkan bagi jalan kereta api maupun angkutan darat lain semacam mobil, truk, gerobak, pedati, dan sebagainya. Padahal saat itu (sekitar tahun 1925) keberadaan kendaraan bermesin di Indonesia, bahkan di Jawa dapat dikatakan masih sedikit jumlahnya. Demikian, bangsa bule itu memang telah berpikir 50 sampai ratusan tahun ke depan, sementara bangsa kita masih berkutat soal bagaimana mengisi perut biar kenyang.
Salah satu jembatan yang dibangun Belanda adalah jembatan yang melintas di atas Kali Serang, Kulon Progo. Tepatnya di daerah Bendungan. Semula untuk melintasi sungai ini orang harus menceburkan diri ke dalamnya. Demikian juga dengan kendaraan. Jadi mesti rela berbasah ria. Minimal kaki harus basah. Itu pun jika musim kemarau. Jika musim hujan tiba, orang wajib waspada pada bahaya banjir.
Berikut ini disajikan sebuah peristiwa diresmikannya jembatan Sungai Serang oleh pemerintah Belanda bersama pihak Keraton Paku Alaman dan Kasultanan Yogyakarta. Peristiwa ini pada masa itu demikian penting sehingga banyak dihadiri para pejabat Yogyakarta, Belanda, lokal, dan masyarakat setempat. Jembatan ini pada masanya dianggap sebagai sebuah karya pembangunan prasarana fisik yang demikian megah dan mewah. Lihatn saja kerumunan orang di bawah jembatan dan di atas jembatan yang menunjukkan betapa pentingnya peristiwa tersebut.
Kita boleh belajar pada bangas londo tentang pembangunan prasarana fisik terutama yang menyangkut bangunan yang berhubungan dengan air. Mereka memang dapat dikatakan sangat berpengalaman soal itu. Mereka juga cukup disiplin dan jujur untuk pelaksanaan proyek-proyek fisik itu. Kini banyak bangunan hasil karya mereka masih utuh berdiri. Tidak hanya jembatan, namun juga rumah atau gedung-gedung kuno. Padahal saat itu semen belum digunakan. Konstruksi tulangan besi belum digunakan. Toh bangunan mereka awet, kokoh, dan megah juga. Semua berawal dari kesungguh-sungguhan, disiplin, dan tidak main-main soal ukuran, volume, campuran bahan materialnya.




JEMBATAN KALI SERANG, KULON PROGO TAHUN 1925


JEMBATAN KALI SERANG, KULON PROGO TAHUN 1925




JEMBATAN KALI SERANG, KULON PROGO TAHUN 1925
Kita boleh mangkel karena pernah dijajah bangsa kulit putih, Belanda selama ratusan tahun. Semuanya itu tentu juga tidak lepas dari kebodohan kita sendiri. Di balik kesengsaraan akibat penjajahan itu, kita juga bisa memetik pengetahuan dan pengalaman dari bangsa yang “minteri” atau ngakali kita itu. Setidaknya bangsa Belanda itu telah mengenalkan teknik pembangunan prasarana fisik yang baik dan berkualitas. Kita bisa lihat dan buktikan sendiri, ada begitu banyak bangunan kolonial yang hingga sekarang masih berdiri kokoh sekalipun dibangun tanpa semen kecuali campuran pasir, gamping, dan bubuk batu bata.
Sementara bangunan yang kita buat sekarang banyak yang ambrol, pecah, atau retak padahal baru dibangun beberapa bulan atau tahun yang lalu. Semua berpulang pada kejujuran hati kita sendiri. Kedisiplinan kita sendiri dalam mengikuti kaidah-kaidah pembangunan fisik yang baik. Jika di dalamnya sarat dengan manipulasi dan korupsi, jangan pernah berharap apa yang kita bangun akan awet, lebih-lebih lestari. Jangan pernah berharap !
Salah satu bangunan yang pernah dibuat Belanda di wilayah Yogyakarta adalah jembatan yang melintang di atas Kali Serang di wilayah Bendungan, Wates, Kulon Progo. Pengetahuan yang lebih maju dan penguasaan material oleh Belanda atas kekayaan bumi Jawa (Nusantara) menyebabkan Belanda mampu membangun sekian banyak bangunan entah itu gedung, pabrik, jalan, jalan kereta api, jembatan, saluran irigasi, dam/waduk, dan lain-lain di persada Nusantara. Jembatan Kali Serang di Bendungan hanyalah salah satunya.
Jembatan Kali Serang ini dirasa penting dibangun oleh Belanda untuk memperlancar hubungan dari Yogyakarta ke arah Kulon Progo dan sebaliknya. Di samping untuk memperlancar hubungan intern Wates atau Kulon Progo sendiri. Dulu penyeberangan pada sungai ini dan sungai-sungai lainnya dilakukan dengan menyeberang langsung. Hal ini tidak terlalu menyulitkan jika air sedang surut. Akan tetapi pada musim penghujan hal demikian sangat menyulitkan bahkan membahayakan. Belanda mengatasinya dengan membuat jembatan.
Pada gambar berikut ditampilkan peresmian Jembatan Kali Serang, Wates, Kulon Progo yang dilaksanakan sekitar tahun 1925-an. Tampak dalam gambar tersebut suasana resmi peresmian yang dihadiri pejabat-pejabat penting di Yogyakarta waktu itu. Pada gambar tersebut juga tampak sebuah gerobak terbuka yang mengangkut kelapa. Gerobak tersebut juga memancangkan bendera negara Nederland yang berwarna merah putih biru. Gerobak yang tampak dalam gambar atau foto itu merupakan kendaraan pertama yang melintasi Jembatan Kali Serang.
Kini kita semakin dapat merasakan manfaat pembangunan jembatan di atas Sungai atau Kali Serang itu. Kita tinggal meneruskan dan merawatnya dengan baik. Rintisan telah dilakukan oleh penjajah kita, Belanda. Bisakah kita meniru sisi-sisi baik dari penjajah itu ? Kalau bisa tentu kita tidak akan memanipulasi campuran material, memanipulasi ukuran atau volume serta kualitas bahan sebagai unsur pokok pembangunan prasarana fisik tersebut. Mampukah kita ?




BRANDWEER: PEMADAM KEBAKARAN DI JOGJA MASA LALU


BRANDWEER: PEMADAM KEBAKARAN DI JOGJA MASA LALU




BRANDWEER: PEMADAM KEBAKARAN DI JOGJA MASA LALU
Kita telah mengenal dan akrab dengan apa yang dinamakan Dinas Pemadam Kebakaran. Dinas ini beperanan vital dalam pengendalian api dan penyelamatan. Generasi tua di Jogja (Jawa) sering menyebut dinas pemadam kebakaran atau mobil pemadam kebakaran dengan istilah Blangwir, Blamwir, Blambir. Begitulah lidah orang Jawa memang malas mengucapkan kata-kata atau kalimat yang dianggap sulit dilafalkan. Sesungguhnya istilah yang disebut di atas itu berasal dari bahasa Belanda, Brandweer yang artinya adalah Dinas Pemadam Kebakaran.
Berikut ini disajikan tipologi mobil pemadam kebakaran yang dioperasikan di Yogyakarta di masa lalu. Gambar atau foto dimuat dalam sebuah buku laporan pemerintah Hindia Belanda di Yogyakarta dengan judul ”Gegevens over Djokjakarta 1926 A”, halaman 109. Wujud dari mobil pemadam kebakaran tersebut sangat berbeda dengan mobil pemadam kebakaran yang kita kenal sekarang. Kelihatan bahwa mobil pemadam kebakaran masa lalu itu begitu sederhana bahkan terkesan lucu. Seperti sebuah mobil biasa yang mengangkut sebuah tangki air biasa juga.
Perhatikan juga pakaian petugas pemadam yang mengoperasikan mobil tersebut. Tampak bajunya model jas tutup warna putih. Pantalonnya berwarna hitam (gelap). Salah satu petugasnya bahkan memakai ikat kepala (destar). Saat itu Yogyakarta telah memiliki 550 titik keran untuk menyalurkan air demi kepentingan pemadam kebakaran. Saat ini kita tidak tahu, berapa titik keran (hydrant) yang ada di Yogyakarta untuk antisipasi kebakaran.
Pada masa lalu Brandweer ini sering juga ditugaskan untuk melakukan pekerjaan seperti menyirami jalan-jalan protokol, alun-alun, dan lain-lain. Maklum, jalan-jalan di masa lalu banyak yang belum dibangun dengan lapisan aspal. Apalagi aspal hotmix. Oleh karena kondisi yang demikian, maka jalanan atau alun-alun sering berdebu. Untuk menjinakkan debu maka diperlukan penyiraman air. Brandweer inilah yang ditugaskan untuk melakukannya. Tugas ini umumnya dilakukan jika akan ada kunjungan tamu yang melewati jalan-jalan protokol. Agar perjalanannya tidak diganggu oleh taburan dan kepulan debu, maka jalanan perlu disirami air terlebih dahulu. Tugas semacam ini tentu saja bukan merupakan tugas pokoknya selaku pemadam kebakaran. Hal ini hanya merupakan tugsa sampingan saja.
Lepas dari semuanya itu hal yang patut dicatat adalah bahwa ternyata pemerintah Hindia Belanda telah berpikir begitu jauh ke depan. Bahwa bahaya kebakaran sejak awal mula memang telah dan perlu dipikirkan dan diantisipasi sekalipun di masa itu listrik belum marak, gas belum untuk bahan bakar nyaris tidak ada, rumah masih jarang, pemikiran bangsa pribumi (inlander) masih sangat sederhana. Barangkali kita perlu belajar banyak dari bangsa yang pernah menjajah kita itu. Mempelajari segala kemajuan, etos kerja, kedisipilinan, ketekunan, dan kesungguhannya dalam berkarya dan bekerja. Tidak main-main, tidak celelekan.




RAMPOGAN MACAN SUDAH TIDAK ADA LAGI


RAMPOGAN MACAN SUDAH TIDAK ADA LAGI




RAMPOGAN MACAN SUDAH TIDAK ADA LAGI
Tidak pernah diketahui dengan pasti kapan tradisi rampogan mulai tumbuh di Nusantara, khususnya di Jawa. Ada dugaan bahwa tradisi ini telah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan Hindu Buda. Namun ada juga duggan lain yang menyatakan bahwa tradisi mulai ada sejak kerajaan Demak hingga Mataram. Dari kedua dugaan itu, belum didapatkan pembuktian yang akurat.
Tradisi ini tentu bukan merupakan tradisi rakyat, melainkan tradisi para ningrat, khususnya lagi para raja. Sebab penyelenggaraan tradisi semacam ini memerlukan berbagai sarana yang tidak murah dan mudah. Kecuali itu tradisi ini memang menjadi semacam hak khusus raja. Tidak mengherankan juga jika penyelenggaraannya dilakukan secara besar-besaran dan mengambil tempat di alun-alun keraton.
Istilah rampogan sendiri sering diartikan sebagai rayahan ‘rebutan atau berebutan’. Akan tetapi dalam rampogan macan yang sering diselenggarakan raja untuk menyambut tamu agung bisa diartikan sebagai mengadu binatang buas (biasanya macan loreng, tutul, atau kumbang) dengan banteng dan sering dilanjutkan dengan pengeroyokan macan oleh para prajurit keraton.
Sudah menjadi kelaziman di zaman dulu bahwa di lingkungan keraton biasanya juga terdapat kandang-kandang binatang. Entah itu kandang kuda, kandang gajah, banteng, dan aneka satwa lain sebagi satwa-satwa kelangenan atau objek hiburan dan tunggangan raja. Macan merupakan salah satu satwa eksotis yang sering dipelihara oleh raja untuk kesenangan (hiburan) raja. Kandang macan ini biasanya ditempatkan di sisi tenggara dari alun-alun utama (alun-alun utara).
Rampogan macan umumnya akan dipadati oleh penonton dari berbagai lapisan masyarakat. Mula-mula kandang macan beserta isinya ditempatkan di tengah alun-alun. Kemudian di sisi lain ditempatkan kandang banteng berikut bantengnya tentu saja. Di sisi lain ditempatkan setumpuk jerami dan kayu untuk menyalakan api. Kemudian ada satu atau dua orang abdi keraton yang berjalan dengan berjoget (tayungan) menuju kandang macan dan meloncat ke atasnya. Dengan cekatan tali pintu kandang macan diputusnya. Sementara itu api juga telah dinyalakan diharapkan dengan nyala api di sisi kandang macan itu sang macan menjadi marah, takut atau gelisah sehingga macan pun keluar dari kandang.
Sementara itu di sisi lain sang banteng telah ditusuk dengan besi panas oleh abdi lain sehingga banteng pun marah. Kadang-kadang tubuh banteng disiram dengan air yang telah dibubuhi ulegan cabe rawit sekian kilo sehingga sehingga banteng pun merasakan panas luar biasa pada kulitnya. Sering pula kulitnya akan digepyoki ’dipukuli’ dengan daun tertentu yang menimbulkan rasa gatal luar biasa. Harapannya, dengan itu semua sang banteng marah besar.
Macan yang gelisah melihat api kadang-kadang tidak segera tertarik untuk menyerang banteng. Untuk itu besi panas pun siap disundutkan ke kulitnya sehingga macan marah dan segera menyerang banteng. Pertarungan banteng dan macan ini kadang bisa dimenangkan oleh banteng. Akan tetapi pada umumnya bantenglah yang kalah. Kadang macan menderita luka sekalipun bantengnya bisa dimatikannya. Namun nasib macan pun tidak akan baik juga sebab seusai macan membunuh banteng sang macan pun akan diranjab ’diserbu’ dengan sekian ratus atau ribu mata tombak yang dibawa oleh para prajurit yang mengepung alun-alun. Nah, terbantailah sang macan dengan sadisnya. Penonton pun senang (atau mungkin ngeri).
Menurut beberapa catatan rampogan macan ini masih dapat disaksikan di kerajaan-kerajaan Jawa hingga zaman Paku Buwana IX (1861-1893) bertahta di Surakarta. Untuk Yogyakarta sendiri pada masa-masa itu mungkin rampogan macan juga masih diselenggarakan atau mungkin juga justru sudah tidak ada lagi.
Hilangnya tradisi rampogan macan diduga oleh karena populasinya semakin tipis oleh perburuan. Ada juga yang menyatakan bahwa hilangnya tradisi ini oleh karena dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda.
Kini, tradisi rampogan ini tidak akan pernah dapat disaksikan lagi. Rampogan mungkin hanya bisa kita saksikan lagi di dunia pewayangan, khususnya wayang kulit.




RUMAH SAKIT MATA DR. YAP TAHUN 1920-AN


RUMAH SAKIT MATA DR. YAP TAHUN 1920-AN




RUMAH SAKIT MATA DR. YAP TAHUN 1920-AN
Rumah Sakit Mata Dr. Yap merupakan salah satu rumah sakit yang terkenal di Indonesia. Rumah sakit yang terletak di Jl. Cik Di Tiro Yogyakarta ini memiliki bangunan yang cukup megah. Kini kondisi di sekitarnya cukup ramai karena Jl. Cik Di Tiro yang berada di depannya termasuk jalan yang sangat padat lalu lintas. Namun demikian, pada tahun 1920-an kondisi itu jauh berbeda dengan sekarang. Kondisi di tahun 1930-an itu Jl. Cik Di Tiro masih demikian lengang. Masih banyak tumbuhan besar di sekitar kompleks rumah sakit. Selain itu, rumput dan semak-semak masih banyak bertumbuhan di kanan kiri Jl. Cik Di Tiro. Benar-benar kondisinya jauh berbeda dengan sekarang.
Hal yang masih dipertahankan adalah gaya arsitekturnya. Sekalipun cat dan tampilan bangunan Rumah Sakit Mata Dr. Yap yang sekarang lebih cantik, bergaya, dan rapi, namun gaya arsitektur lama itu tidak ditinggalkan. Sebagai kenangan akan masa lalu rumah sakit ini Tembi menampilkan kembali foto yang pernah dimuat di dalam sebuah buku (laporan) yang diberi pengantar oleh Residen Belanda untuk Yogyakarta waktu itu, yakni L.F. Dingemans. Silakan menikmati.




WC TAHUN 1920-AN

Mewah :

Dulu, tapi yang mewah :

Dulu, dari gubuk gedeg :

WC TAHUN 1920-AN




WC TAHUN 1920-AN
WC sebagai “tempat sampah” isi perut manusia tidak begitu nyaman ditampilkan atau dibicarakan secara terbuka. Maklum, namanya saja wadah kotoran. Akan tetapi WC merupakan media yang amat vital bagi manusia untuk memanajemeni kotoran manusia. WC menjadi benda yang memisahkan manusia dengan kotorannya sendiri. Ia menjadi media perlindungan bagi manusia agar jangan sampai tampil buruk, tidak sehat, dan terkesan menjijikkan. Bayangkan sendiri jika kita hidup tanpa pernah mengenal adanya WC !
Pada masa lalu masyarakat Jawa (Jogja) ternyata juga pernah (dan mungkin masih) kurang atau tidak mengenal WC. Pada masa lalu mereka biasa membuang kotorannya di kebun, ladang, atau sawah. Yang paling umum adalah menghanyutkannya di aliran sungai atau selokan. Begitu hanyut persoalannya dianggap selesai. Padahal bagian hilirlah yang akan menanggung segala akibatnya. Selain itu ada lagi yang membuang kotorannya ke alam kolam. Jadi di pinggir atau bahkan di tengah kolam mereka membuat ruang kecil yang tertutup di sekelilingnya, namun terbuka di bagian atas dan bawahnya. Untuk menuju tempat ini biasanya dibuatkan semacam jembatan atau tangga kecil. Ruang ini dilengkapi tempat nangkring sehingga orang yang mau buang hajat tinggal nangkring dan kotorannya akan meluncur dan masuk kolam: plung ! Jadilah benda yang terjun bebas itu menjadi santapan ikan di dalam kolam, amboi.
Ada pula yang menanam kotorannya di dalam tanah. Jadi sebelum membuang kotoran mereka menggali lubang terlebih dulu barang dua tiga paculan. Setelah dirasa cukup barulah mereka nongkrong di sisi lubang. Begitu kotoran dianggap dianggap telah meninggalkan tempat semula dan berpindah ke lubang, mereka menguruk lubang tersebut. Perilaku ini mungkin agak mirip dengan perilaku kucing.
Selain yang telah dituliskan di atas ada lagi WC yang dibuat secara sederhana oleh orang Jawa di masa yang yang dikenal dengan nama jumbleng. Hakikatnya jumbleng sama dengan WC yang dibuat di atas kolam seperti tertulis di atas. Hanya saja jumleng ini dibuat di atas tanah. Untuk menampung kotoran dibuatlah lubang yang cukup dalam dan kadang juga lebar. Dengan demikian jumbleng akan dapat menampung kotoran selama beberap bulan atau beberapa tahun tanpa perlu memanggil jasa sedot WC.
Agar saat buang hajat tidak ada orang yang melihat pantat yang telanjang atau organ tubuh lain dibuatlah sekadar penghalang pandangan yang terbuat dari anyaman daun kelapa, gedhek, atau anyaman bambu. Benar-benar sangat sederhana. Umumnya jumbleng ini ditempatkan agak jauh dari bangunan rumah. Biasanya di sudut kebun yang terletak di belakang rumah atau samping rumah. Jadi untuk menuju lokasi diperlukan beberapa puluh langkah. Anda bisa bayangkan sendiri jika orang diserang penyakit diare dan harus beberapa kali mendatangi jumbleng, maka orang tersebut pasti akan terkesan sedang melakukan latihan lari sprint.
Jumbleng di tahun 1920-an masih kaprah di Jawa (Jogja). Dulu hal semacam ini dianggap lumrah-lumrah saja. Akan tetapi di zaman sekarang tentu akan dianggap sebagai primitif, tidak beradab, tidak sehat, dan menjijikkan. Berikut ini disajikan foto jumbleng yang dibuat tahun 1926 oleh pemerintah Belanda. Bandingkan dengan jumbleng modern yang difoto Tembi awal Juni 2010.




PESANGGRAHAN AMBARBINANGUN 1895 DAN 2010

Sekarang :

Doeloe :

PESANGGRAHAN AMBARBINANGUN 1895 DAN 2010




PESANGGRAHAN AMBARBINANGUN 1895 DAN 2010
Ada banyak pesanggrahan yang dibuat oleh raja-raja Kasultanan Yogyakarta. Pesanggrahan ini umumnya difungsikan untuk tempat peristirahatan raja dan kerabatnya atau tempat rekreasi. Akan tetapi pesanggrahan juga sering memiliki fungsi-fungsi lain, misalnya untuk menenangkan pikiran (urusan spiritual), persembunyian, atau bahkan juga pertahanan.
Banyak pesanggrahan yang telah didirikan di lingkungan Keraton Yogyakarta, namun pesanggrahan-pesanggrahan itu kini banyak yang sudah rusak atau bahkan hilang dimakan zaman. Tidak banyak pesanggrahan yang dapat kita saksikan lagi dan masih ada beberapa masih dapat kit saksikan meskipun kondisinya sudah berubah dari bentuk awalnya.
Bangunan-bangunan pesanggrahan umumnya berarsitektur indah, unik, dan dengan lingkungan yang paling tidak terdiri dari kolam, kebun, tempat istirahat, tempat spiritual, serta halaman yang relatif luas. Kecuali itu, pesanggrahan hampir selalu dibangun di tempat yang nyaman dan tenang.
Berikut ini disuguhkan foto Pesanggrahan Ambarbinangun yang terletak di Dusun Kalipakis, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Pesanggrahan ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana VI (1828-1855). Foto Pesanggrahan Ambarbinangun lama ini dibuat oleh fotografer terkenal masa lalu, Kasijan Chepas. Foto dibuat pada tahun 1895. Sementara foto baru sebagai pembanding dibuat oleh Tembi tahun 2010, tepatnya pada awal bulan Mei 2010. Silakan membandingkan dan menikmatinya.




PENYIMPANAN PADI DI TAHUN 1930-AN


PENYIMPANAN PADI DI TAHUN 1930-AN




PENYIMPANAN PADI DI TAHUN 1930-AN
Padi tidak bisa dipisahkan lagi dari bangsa Jawa, bangsa Indonesia, dan sebagian besar bangsa Asia. Padi merupakan makanan pokok bagi penduduk di wilayah-wilayah tersebut. Pengelolaan tanaman padi di Jawa sudah merupakan hal yang dianggap sebagai kelumrahan belaka. Akan tetapi orang tidak sadar bahwa seiring perkembangan zaman pengelolaan tanaman ini mengalami berbagai perubahan. Jawa yang dulu terkenal sebagai penghasil padi dengan berbagai varietas lokalnya oleh karena system penanaman padi monoluktur mengakibatkan varietas lokalnya hilang. Bangsa lainlah yang kemudian ngopeni. Ada ribuan varietas tanaman padi di Jawa masa lalu. Kini kita hanya mengenal beberapa saja. Itu akibat kesadaran baru (yang terlanjur terlambat) terhadap pemuliaan jenis-jenis tanaman lokal.
Panen padi merupakan saat yang membahagiakan bagi petani. Dulu dalam memanen padi tangkai-tangkai padi dipotong satu per satu dengan ani-ani. Kini panen padi dilakukan dengan tebasan sabit. Lebih cepat. Lebih efisien. Memang demikian. Akan tetapi kita mungkin lupa atau tidak mengerti bahwa pemanenan padi satu demi satu tangkai sebenarnya merupakan bentuk penghargaan terhadap karya yang dilakukan oleh petani. Bentuk rasa sayang dan cinta pada buah-buah karya yang diberkati Sang Khalik. Sebab tanpa berkat Sang Khalik kesuburan dan panenan tidak akan terjadi. Selain itu hal demikian juga merupakan bentuk kesadaran akan sebuah proses. Semua butuh waktu. Semua ada saatnya.
Panen padi di zaman sekarang umumnya langsung dirontokkan bulir-bulirnya di tengah sawah dengan cara digepyokkan/dibantingkan pada alat yang terbuat dari susunan papan. Aada juga yang dierek (dirontokkan dengan mesin dan silinder berpaku). Usai itu gabah yang rontok dan telah tertampung dalam lembaran plastik atau terpal langsung diusung ke tanah terbuka atau pinggir jalan untuk dijemur.
Hal demikian berbeda dengan zaman dulu. Pada masa lalu padi yang telah dipotong dari tangkainya umumnya lalu diikat menjadi satu. Besarnya diameter ikatan umumnya segenggaman tangan orang dewasa. Ikatan-ikatan padi ini kemudian diusung dan dijemur di atas kepang atau tikar. Jika sudah kering lantas disusun bertumpuk sehingga membentuk gundukan-gundukan seperti gunung kecil. Tumpukan padi demikian ini umumnya disimpan di dalam tempat yang dinamakan lumbung. Ada pula yang disimpan dalam ruang-ruang terbuka namun beratap rapat. Jika akan dijadikan padi orang tinggal mengambil ikatan-ikatan itu, mengilesnya (merontokkan dengan diinjak-injak dengan gerakan setengah memutar).
Gambar di samping menunjukkan bagaimana wujud tumpukan padi di masa lalu yang di zaman sekarang sudah sangat sulit ditemukan lagi. Penyimpanan padi yang dilakukan di zaman sekarang hampir selalu dalam bentuk gabah kering yang telah dirontokkan dari tangkainya. Lebih praktis, efisien, tidak menyita ruang, lebih gampang dalam pemrosesan menjadi beras. Begitulah. Setiap zaman atau waktu membawa perubahan-perubahannya sendiri.




PLENGKUNG NGASEM MENJELANG ABAD 18 DAN TAHUN 2010

Sekarang :

Doeloe :

PLENGKUNG NGASEM MENJELANG ABAD 18 DAN TAHUN 2010




PLENGKUNG NGASEM MENJELANG ABAD 18 DAN TAHUN 2010
Plengkung atau pintu yang berfungsi untuk keluar masuk kompleks benteng Keraton Kasultanan Yogyakarta merupakan bangunan yang cukup unik. Pasalnya, plengkung ini menjadi satu-satunya jalan untuk masuk atau keluar dari benteng Keraton Yogyakarta, kecuali melalui pintu utama di Pangurakan yang nun di kala itu tidak setiap saat dan setiap orang bisa memasuki atau keluar daripadanya begitu saja.
Semua plengkung pada awalnya dilengkapi dengan daun-daun pintu yang kuat, berat, dan cukup besar. Dengan demikian, plengkung-plengkung tersebut memang berfungsi sebagai pintu. Plengkung-plengkung tersebut pada masanya dijaga oleh prajuirt jaga. Plengkung hanya dibuka dan ditutup pada jam-jam yang sudah ditentukan. Waktu buka plengkung adalah jam 05.00. Sedangkan waktu tutupnya adalah jam 20.00. Artinya, selepas jam 20.00 plengkung sudah dalam keadaan tertutup rapat.
Plengkung dinamakan demikian karena bangunan yang berfungsi sebagai pintu ini memiliki struktur atau wujud langit-langit yang melengkung (seperti kubah). Selain itu plengkung juga berwujud memanjang (seperti lorong). Jadi, orang yang keluar masuk plengkung akan merasakan sensasi seperti ketika memasuki terowongan (sekalipun bukan terowongan yang panjang).
Gambar berikut menunjukkan Plengkung Ngasem atau yang dikenal juga dengan nama Plengkung Jaga Sura. Semula wujud plengkung ini sama dengan plengkung-plengkung lain seperti Plengkung Wijilan, Plengkung Gading, dan plengkung-plengkung yang lainnnya. Akan tetapi Plengkung Ngasem telah mengalami perubahan total dari bentuk aslinya. Jika semula plengkung ini berbentuk gapura padureksa, kini Plengkung Ngasem tidak bisa lagi dikatakan sebagai plengkung karena bentuknya telah menjadi gapura bentar. Tidak ada lagi atap melengkung di atasnya. Tidak ada lagi lorong seperti terowongan. Kondisi yang sama semacam ini juga dialami oleh Plengkung Tamansari (Jagabaya).
Dunia terus berubah. Ada yang hilang memang, namun banyak juga hal-hal baru yang hadir. Banyak hal baru yang lebih berguna dan menguntungkan. Namun hal-hal yang lama sering tanpa disadari juga memberikan guna yang baru disadari setelah semuanya tidak ada.



JALAN NGABEAN 1886

Sekarang :

Doeloe :

JALAN NGABEAN 1886




JALAN NGABEAN 1886
Di Yogya ada satu stasiun kereta api yang dikenal dengan nama Ngabean. Dikawasan stasiun itu kemudian dikenal dengan sebutan jalan Ngabean. Stasiun Ngabean ini, jalur kereta api Yogya-Bantul. Jadi, disepanjang Yogya-Bantul ada rel kereta api yang melintang. Namun, jalur kereta api Yogya-Bantul kini sudah tidak ada.
Meski jalur kereta apinya sudah tidak ada, tetapi stasiun kereta apinya masih tegak berdiri. Dan dipelihara sebagai heritage. Tentu, suasana Ngabean dulu, setidaknya tahun 1886 seperti tampak dalam foto ini, pastilah sudah berbeda jauh dengan situasi sekarang. Sampai akhir tahaun 1960-an, kereta api Yogya-Bantul masih jalan. Bahkan, awal tahun 1970-an stasiun Ngabean masih berfungsi. Disekitar stasiun Ngaeban, dulu, dikenal sebagai toko alat-alat sepeda, sehingga kapan hendak mencari perlengkapan sepeda, yang dirujuk jalan Ngabean.
Setelah tidak berfungsi stasiun Ngabean dipergunakan sebagai tempat parkir kendaraan wisatawan yang hendak ke Kraton. Namun rupanya, karena jaraknya sedikit jauh, sehingga wisatawan yang busnya diparkir di Ngabean harus jalan kaki, maka stasiun Ngabean sepi. Sangat jarang ada bus wisatawan yang diparkir di Ngabean. Lebih memilih parkir di alun-alun utara.
Pastilah, bangunan stasiun Ngabean yang sekarang sudah berbeda dengan Ngabean yang dulu. Paling tidak, warna catnya juga sudah berubah. Tetapi, upaya untuk menjaga agar bangunan tidak (di)hancur(kan), merupakan sikap budaya yang perlu dihargai. Dari bangunan stasiun Ngabean, imajinasi mengenai masa lalu bisa dibangun.
Sekarang, bangunan kios-kios yang dulunya ada ditepi jalan dan berada diluar stasiun Ngabean dipindah kedalam. Bangunan tembok yang mengelilingi stasiun Ngabean juga sudah dibuka, sehingga seluruh bangunan yang ada di area stasiun Ngabean bisa dilihat dari luar. Pengganti tembok pagar dibuat taman, sehingga menjadi kelihatan bersih. Diantara taman sebagai pagar area Ngabean, bangunan satisun Ngabean masih tegak berdiri dan bisa dilihat dari luar. Orang yang lewat bisa melihat bangunan stasiun Ngabean.
Kini, yang dulu dikenal dengan nama jalan Ngabean, telah berganti menjadi jalan KH. Wachid Hasyim: jalur jalannya memanjang dari area stasiun Ngaeban kearah selatan sampai pojok beteng selatan.
Foto jalan Ngabean tahun 1886 dengan foto Ngabean atau jalan KH. Wachid Hasyim tahun 2010 bisa dilihat dan saling diperbadingkan.




STASIOEN LEMPOEJANGAN 1887

Sekarang :

Doeloe :

STASIOEN LEMPOEJANGAN 1887




STASIOEN LEMPOEJANGAN 1887
Selain Stasiun Tugu, di Yogya ada juga Stasiun Lempuyangan. Dulu, ditulis dengan ejaan lama: Stasioen Lempoejangan. Jarak antara Stasiun Tugu dan Lempuyangan hanya sekitar 1 Km, atau mungkin malah tidak sampai. Stasiun Lempuyangan ada di sebelah Timur dan Stasiun Tugu ada disebelah barat.
Foto yang menunjukkan angka tahun 1887, menunjukkan bahwa Stasioen Lempoejangan (sengaja ditulis dengan ejaan lama) usianya sudah lebih dari satu abad. Kereta yang tampak di Stasioen Lempoejangan, untuk sekarang, sudah kelihatan koeno, sehingga malah menjadi menarik.
Sekarag Stasiun Lempuyangan masih berfungsi dan malah sudah direnovasi. Pintu masuk Stasiun Lempuyangan dari arah selatan kelihatan sebagai bangunan baru, sehingga nampak cukup bersih, setidaknya kalau dibandingkan 15 tahun yang lalu, telah memilik penataan yang cukup rapi. Stasiun Lempuyangan dipakai untuk pemberangkatan kereta kelas ekonomi. Sehingga penumpang yang hendak bepergian ke Jakarta misalnya dan menggunakan kereta ekonomi, Stasiun yang dipakai untuk menaiki kereta api di Lempuyangan. Untuk kelas eksektif, menggunakan Stasiun Tugu.
Foto Stasiun Lempuyangan dalam waktu yang berbeda, yakni tahun 1887 dengan tahun 2010, jelas sekali ada perbedaannya. Meski bangunan lama masih dipertahankan, namun kelihatan sudah ada variasi, sehingga tidak kelihatan bangunan lama. Namun, disekitar rel kereta api, kelihatan tidak ada banyak perubahan. Pada foto, perbedaannya adalah jumlah kereta yang menunggu. Pada foto tahun 1887, kereta yang menunggu hanya satu buah. Pada foto tahun 2010, keretanya panjang sehingga rel kereta api kelihatan dipenuhi kereta.
Karena jalur lintas ke timur masih berfungsi, kiranya yang membuat Stasiun Lempuyangan kembali ‘dihidupkan’. Penumpang yang hendak, misalnya, ke Surabaya, atau juga ke Solo, bisa menunggu kereta api di Stasiun Lempuyangan.
Inilah Stasioen Lempoejangan, yang sekarang masih terus difungsikan. Melalui foto Stasioen Lempoejangan tahun 1887, kita bisa berimajinasi mengenai Stasiun ini pada 1 abad lewat yang lalu.




PAKAIAN PERANG ALA JAWA ABAD 18


PAKAIAN PERANG ALA JAWA ABAD 18




PAKAIAN PERANG ALA JAWA ABAD 18
Gambar di samping merupakan gambaran pakaian perang Jawa. Demikian seperti yang dituliskan Thomas Stamford Raffles dalam bukunya, History of Java. Pakaian perang merupakan pakaian khusus yang digunakan ketika akan maju ke medan perang. Pakaian perang ala Jawa ini terdiri atas celana yang berkancing. Panjangnya dari pinggang hingga mata kaki. Selain celana panjang umumnya celana untuk berperang yang disebut kathok juga dilengkapi dengan celana pendek. Hanya saja celana pendek tersebut diletakkan (dipakai) di luar celana panjang. Jadi kira-kira seperti pakaian Super Man dengan celana dalam diletakkan di luar celana panjangnya.
Celana-celana tersebut umumnya terbuat dari bahan kain yang halus atau bahkan sutera. Selain itu pakaian perang Jawa juga dilengkapi dengan amben, yakni semacam sabuk yang dililitkan mengelilingi tubuh sebanyak 7-8 kali. Amben ini berfungsi untuk melindungi bagian tubuh dari pinggang hingga dada dan punggung. Jadi fungsinya mirip seperti baju zirah. Umumnya amben juga terbuat dari kain yang bagus atau sutera.
Pakaian perang ala Jawa juga dilengkapi dengan rompi ketat tanpa kancing yang sering disebut sangsang. Di atas sangsang terdapat rompi dengan kancing yang dimulai dari leher sampai perut. Rompi semacam ini sering juga disebut kutang berkancing. Di atas semua jenis baju itu dikenakan baju lengan panjang yang disebut sikepan. Baju lengan panjang ini jika dilihat model atau potongannya agak mirip dengan jaket panjang. Baju ini menutupi seluruh tubuh bagian atas. Umumnya pakaian perang juga dilengkapi dengan tutup kepala. Kadang penutup kepala ini rangkap. Penutup kepala pertama umumnya berupa kain yang diikat dan disimpulkan. Kemudian penutup kepala paling luar umumnya berupa tutup kepala semacam topi atau kuluk.
Untuk menempatkan pedang, maka tali pedang yang disebut angger dililitkan di pinggang. Pedang umumnya ditaruh di pinggang bagian kiri. Tiga bilah keris diletakkan di kanan kiri pinggang dan satu bilah lagi diletakkan di belakang. Keris yang dikenakan ini umumnya terdiri atas satu keris pribadi, satu keris warisan leluhur, dan satu keris yang diberikan oleh ayah mertuanya ketika orang tersebut menikah. Keris dari mertua ini umumnya diletakkan di pinggang bagian kiri.
Selain senjata berupa keris, pedang, dan wedung, umumnya prajurit Jawa juga membawa tombak bertangkai panjang untuk berperang. Di samping tentu saja, perisai dan panah.
Untuk menunjukkan superioritasnya pakaian perang ini sering masih dilengkapi dengan perhiasan berupa cincin atau kalung emas yang dimiliki orang tersebut. Melihat hal yang demikian kelihatan juga bahwa untuk berperang pun orang merasa ”perlu” untuk bersombong diri atau pamer.
Tampaknya hal ihwal yang ada dan terjadi di Jawa kala itu sangat menarik perhatian Raffles sehingga ia tertarik untuk mendokumentasikannya melalui tulisan dan gambar/lukisan. Pada saat dituliskan kemungkinan hal-hal demikian terasa biasa saja. Akan tetapi setelah masa itu lewat 200 tahun lamanya, maka hal-hal yang dicatatnya menjadi terasa luar biasa karena kita tidak akan pernah mendapati lagi secara nyata apa yang dituliskan Raffles tersebut. Jawa yang identik dengan Jogja-Solo-Jateng-Jatim telah menyita begitu banyak perhatian Raffles. Daripadanya kita memperoleh catatan historis yang sangat berharga. Jawa yang eksotis di kala itu kini menjadi demikian modern lengkap dengan segala kemajuan dan kerusakannya.




JALAN TRIKORA TAHUN 1935

Sekarang :

Doeloe :

JALAN TRIKORA TAHUN 1935




JALAN TRIKORA TAHUN 1935
Di Yogya, ada jalan yang dikenal dengan nama jalan Trikora. Jalan ini arah menuju Alun-Alun Utara Yogyakarta, atau memasuki pintu gerbang benteng Kraton Yogyakarta. Sekarang, jalan ini masih tetap bernama jalan Trikora. Lokasinya masih sama, tetapi situasinya sudah berbeda. Jalan Trikora, merupakan satu lintas dengan jalan Maliobro, atau dari arah Malioboro ke selatan lurus sampai ke jalan Trikora. Setelah melintas perempatan Kantor Pos, masuklah ke jalan Trikora.
Sebelah kiri dan kanan jalan Trikora, atau tepatnya sebelah barat dan timur jalan Trikora ada bangunan Kantor Pos dan Bank. Kedua bangunan masih berdiri dan orang mengenalnya sebagai BNI dan Kantor Pos. Pastilah, dibanding suasana tahun 1935 dengan suasana sekarang (tahun 2010) sudah banyak sekali perubahan.
Pada tahun 1935, setidaknya bisa dilihat pada foto jalan Trikora, terlihat pengendara sepeda dan pejalan kaki masih dominant. Rindang pohon juga masih bisa terasakan. Suasana lengang, tampak terasa di jalan Trikora pada masa itu. Bangunan-bangunan lama masih tampak berdiri dan memberikan cita rasa lokal dan kolonial. Di tepi jalan, atau di trotoar, tidak ada pedagang kaki lima dan parkir kendaraan yang mengganggu. Pemakai jalan, pada watu itu, sungguh leluasa menapaki jalan Trikora. Meski tidak ada papan nama yang menunjukkan jalan Trikora, namun orang, pada waktu itu, sudah tahu, bahwa perempatan kantor pos ke selatan adalah jalan Trikora.
Sekarang, setidaknya Ferbuari 2010, jalan Trikora yang dulu lengang sudah padat kendaraan. Selain ada becak dan sepeda onthel, mobil serta sepeda motor tidak pernah sepi. Di trotoar, selain ada pedagang kaki lima, tidak pernah sepi dari parkir sepeda motor dan mobil. Jadi, jalan Trikora sekarang sudah tidak nyaman untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda onthel.
Papan nama yang menunjukkan jalan Trikora dipasang disebelah barat jalan. Tulisannya berwarna putih dengan latar belakang warna hijau. Dipasang tidak jauh dari lampu merah. Atau persisnya, sebelah utara lampu merah.
Jalan Trikora Alun-Alun Utara 1935 mengingatkan akan masa lalu, dan jalan Trikora sekarang menyiratkan persoalan lalu lintas yang semakin kompleks.




PAKAIAN WANITA JAWA DI MASA LALU (ABAD 18)


PAKAIAN WANITA JAWA DI MASA LALU (ABAD 18)




PAKAIAN WANITA JAWA DI MASA LALU (ABAD 18)
Barangkali apa yang dilakukan Thomas Stamford Raffles ketika berada di Jawa dan melakukan pencatatan terhadap berbagai hal tidak pernah dilakukan oleh kolonialis bangsa Eropa lainnya. Oleh karena itu, tidak aneh jika ia kemudian menyombongkan diri bahwa dirinyalah orang (Eropa) yang memiliki catatan terlengkap mengenai Jawa. Hal demikian dapat dimengerti mengingat hampir semua hal yang dia lihat di Jawa memang kemudian dicatatnya dalam buku yang memang terkenal, The History of Java.
Salah satu catatan menarik yang dibuat oleh Raffles adalah tentang pakaian wanita Jawa. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa wanita Jawa di masa lalu sudah umum memakai kain jenis sarung. Disebutkan dalam buku Raffles bahwa penampilannya (sarung tersebut) tidak seperti kain pendek Skotlandia (ingat pakaian tradisional Skotlandia yang mirip rok). Berupa sehelai kain bercorak dengan oanjang 6-8 kaki dan lebarnya 3-4 kaki dijahit di kedua sisinya (disambungkan), dan bentuknya seperti karung tanpa alas yang dijahit.
Para wanita Jawa juga menggunakan kain yang dililitkan hingga mata kaki. Pengikat kain dinamakan udat. Sedangkan kain yang dililitkan mengelilingi tubuh menutupi dada sampai dekat lengan disebut kemban (kemben). Mereka seringkali juga memakai gaun longgar sepanjang lutut yang biasanya berwarna biru dengan panjang berkancing di pergelangan tangan. Jaket pendek seperti laki-laki yang dipakai juga disebut kelambi (baju/kebaya). Wanita Jawa umumnya tidak mengenakan kain di kepala (iket/udheng), melainkan menggulung rambutnya yang disebut dengan istilah gelung. Mereka juga biasa memakai sejenis logam (kuningan, tembaga, perak, emas), atau bahan dari tanduk kerbau untuk anting-anting.
Cara berpakaian wanita dari kalangan bangsawan maupun rakyat kebanyakan secara prinsipiil tidak ada perbedaan. Hanya saja wanita dari kalangan bangsawan umumnya mengenakan pakaian dengan bahan yang lebih berkualitas dan indah serta perhiasan yang terbuat dari emas, perak, intan, berlian, dan lain-lain. Semua orang mengenakan sandal di dalam rumah, terutama di distrik-distrik Eropa.
Umumnya wanita-wanita Jawa (bahkan juga kaum prianya) meminyaki rambutnya dengan minyak wangi. Raffles menyebut beberapa jenis minyak tersebut, di antaranya adalah minyak cendana, minyak kenanga, minyak gaharu, minyak gandapura, dan minyak jeruk. Minyak dalam bahasa Jawa, lenga, oleh Raffles dituliskan lang’a. Selain itu sering pula para wanita Jawa melumuri tubuh mereka dengan ramuan yang disebut boreh. Ada beberapa jenis boreh yakni boreh kuning (bedak kuning), boreh ireng (boreh hitam), boreh sari, dan boreh klembak.
Foto berikut menunjukkan bagaimana kira-kira gambaran Raffles terhadap wanita Jawa dengan kelengkapan pakaiannya. Barangkali apa yang digambarkan Raffles berbeda dengan gambaran pakaian tradisional wanita Jawa saat ini.




PAKAIAN PRIA JAWA MASA LALU (ABAD 18)


PAKAIAN PRIA JAWA MASA LALU (ABAD 18)




PAKAIAN PRIA JAWA MASA LALU (ABAD 18)
Menurut catatan Thomas Stamford Raffles dalam buku terkenalnya, The History of Java (1817), orang Jawa ternyata suka mengenakan pakaian rapi, bersih, dan mewah. Bagi orang Jawa berpakaian tidak bersih dan rapi dianggap sebagai suatu aib. Lebih-lebih dalam perhelatan atau dalam pergaulan dengan orang lain. Pada masa itu bahan baku pakaian lebih banyak berasal dari hasil kebun/tegal/ladang yakni berupa serat kapas yang dipintal (tenun) sendiri selain berasal dari kain-kain impor.
Umumnya pakaian gaya Eropa banyak ditiru (karena disukai) oleh para penguasa atau elit Jawa masa itu. Gaya Eropa ini ditegaskan oleh Raffles dalam sebuah peristiwa kunjungan para pejabat pemerintah yang masuk ke pedalaman umumnya akan disambut oleh pejabat-pejabat desa dengan pakaian ala Eropa, yakni topi berbulu, pantaloon, dan kaus kaki berwarna putih. Pakaian seperti ini tampaknya juga terus merambah ke kostum penari. Kini pun kita bisa melihat penari-penari jatilan, kubro siswo, angguk, dan dolalak menggunakan kaus kaki sebagai salah satu kelengkapan cara berpakaiannya. Barangkali kaus kaki di masa itu menjadi symbol kemodernan, kemajuan, kemewahan, dan sekaligus ”gebyar” seperti awal-awal datangnya HP, televisi, sepeda motor, AC, kulkas, dan lain-lain.
Pada masa itu kaum wanita diwajibkan menyediakan pakaian bagi anak-anak maupun suaminya. Baik itu untuk keluarga-keluarga biasa maupun bangsawan. Tidak mengherankan jika kaum laki-laki keluar rumah untuk bertamu ia akan mengenakan pakaian buatan istrinya dengan rasa bangga. Dengan demikian, ada semacam kompetisi dalam membuat pakaian antaribu-ibu rumah tangga masa lalu. Demikian pula dalam keluarga pria-pria bangsawan yang seringkali mempunyai istri atau selir lebih dari satu orang.
Berikut ini adalah gambaran pria Jawa dalam pakaian tardisionalnya menurut tangkapan atau gambaran Raffles. Tampak bahwa bajunya mirip dengan gaya jas Eropa. Udeng atau tutup kepalanya merupakan tutup kepala yang diikatkan dengan sistem simpul (tidak berupa mondolan, kuluk, atau blangkon). Wiru atau lipatan kain yang bertumpuk di bagian tengah (antara dua kaki) kelihatan hanya dilipat begitu saja (tidak disetrika/dijepit). Ikat pinggang (sabuk), epek, kamus, dan stagen seperti yang dikenal dalam pakaian tradisional Jawa sekarang tidak kelihatan menonjol. Kain yang dikenakannya kelihatan hanya diikat sabuk secara agak asal. Pria tersebut juga tidak mengenakan alas kaki (sandal atau selop). Keris tampak diselipkan di bagian depan badan (di depan perut).
Tampaknya gaya berpakaian semacam itu di masa lalu sudah merupakan gaya berpakaian yang cukup rapi dan mewah. Keris yang diselipkan di bagian depan (depan perut) tampaknya juga merupakan kelaziman di masa itu sekalipun kemudian di masa kini pemakaian keris untuk kelengkapan berpakaian adat Jawa hampir selalu diletakkan di punggung bawah.
Gambaran pemandangan sebagai latar belakang dari gambar pria Jawa ini menegaskan bahwa eksotisme Jawa kala itu sungguh menyihir perhatian Raffles pada Tanah Jawa.




GEDUNG AGUNG YOGYAKARTA TAHUN 1925


GEDUNG AGUNG YOGYAKARTA TAHUN 1925




GEDUNG AGUNG YOGYAKARTA TAHUN 1925
Istana Kepresidenan Yogyakarta atau lebih dikenal dengan nama Gedung Agung merupakan salah satu bangunan kuno serta ikon Yogyakarta. Menurut sejarahnya gedung ini dibangun pada pertengahan tahun 1824 atas prakarsa Residen Yogyakarta yang ke-18 yang bernama Anthony Hendriks Smissaert. Ia menghendaki agar dibangun sebuah bangunan yang berwibawa untuk menempatkan residen-residen Belanda di Yogyakarta. Bangunan ini pernah roboh karena gempa yang melanda Yogyakrata tanggal 10 Juni 1867. Kemudian dibangun kembali pada tahun 1869. Demikian menurut catatanhttp://id.wikipedia.org.
Bangunan yang terletak di ujung Jalan Jendral Ahmad Yani dan berada di pusat Kota Yogyakarta ini tidak pernah mengalami perubahan bentuk yang berarti. Gambar di samping menunjukkan profil atau tampak muka dari bangunan tersebut. Foto dibuat pada kisaran tahun 1925. Keberadaan beberapa patung atau arca dari zaman Hindu-Bunda hingga sekarang juga masih terpelihara. Tanaman-tanaman besar semacam beringin dari dulu hingga sekarang juga tetap ada. Demikian pula halaman luas di depan bangunan yang berupa lapangan berumput juga tetap terpelihara.
Keterpeliharaan bangunan-bangunan tua semacam itu tentu tidak pernah lepas dari peran atau fungsi bangunan itu, biaya, dan kepedulian atau komitmen pemerintah dan masyarakat setempat. Melihat fungsinya, dari dulu hingga sekarang bangunan itu tetap digunakan, khususnya untuk acara-acara resmi kenegaraan. Dengan demikian, bangunan ini tetap dibutuhkan. Oleh karena fungsinya yang demikian, tentu ada alokasi dana untuk merawatnya. Fungsi, dana, dan komitmen akhirnya menjadi tiga unsur yang saling melengkapi untuk terus memelihara bangunan ini.
Jika Anda melihat foto ini kemudian Anda melihat istana negara secara faktual seperti yang ada sekarang, Anda bisa membandingkan, menilai, atau pun mengapresiasi seturut daya ingat, imajinasi, dan daya analitis Anda sendiri.




GAMBAR DENAH BENTENG DALAM STRATEGI BENTENG STELSEL BELANDA


GAMBAR DENAH BENTENG DALAM STRATEGI BENTENG STELSEL BELANDA




GAMBAR DENAH BENTENG DALAM STRATEGI BENTENG STELSEL BELANDA
Belanda adalah negara yang tidak luas wilayahnya. Bahkan luas negara ini tidak lebih luas daripada Jawa Barat. Akan tetapi negara kecil nun jauh di sana itu ternyata mampu menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara selama kurang lebih 3 abad lamanya. Apa yang menjadi kekuatan dari negara kecil ini ? Tentu saja otaknya !
Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830) telah menimbulkan kecemasan besar bagi Belanda waktu itu. Sekalipun negara ini bisa merekrut orang pribumi untuk melawan pasukan Diponegoro, namun apa yang dilakukan Belanda tidak dapat segera membawa hasil. Berbagai cara ditempuh Belanda. Termasuk mempengaruhi para elit Jawa dengan berbagai iming-iming dan hadiah. Apa yang dilakukannya itu lambat laun memang membawa hasil. Selain dengan bujuk rayu, Belanda juga melakukan berbagai tekanan. Strategi ini juga membawa banyak hasil. Bahkan kelak Pangeran Diponegoro dapat ditangkap berkat bujuk rayu plus kelicikan yang dilakukan Belanda.
Satu strategi perang yang juga berandil besar dalam menghambat pergerakan pasukan Diponegoro adalah dengan diterapkannya strategi atau sistem benteng stelsel oleh Belanda. Strategi ini diterapkan dengan mendirikan benteng baru di setiap wilayah yang berhasil dikuasai Belanda. Keberadaan ini penting untuk mengontrol dan mengendalikan wilayah yang dikuasai sehingga wilayah tersebut tidak bisa lagi digunakan sebagai pos atau kantung-kantung perlawanan pasukan Diponegoro yang menerapkan strategi perang gerilya.
Benteng stelsel yang diterapkan Belanda ini tak urung menghasilkan sekitar 165 benteng baru yang tersebar di seluruh Jawa, khususnya Jawa Tengah (tentu saja termasuk Yogyakarta) dan Jawa Timur waktu itu. Dengan demikian, dapat dibayangkan sendiri bagaimana kira-kira pergerakan pasukan Diponegoro dengan adanya benteng Belanda sebanyak itu.
Kini tidak semua benteng tersebut lestari. Banyak yang sudah rusak atau bahkan tidak ada bekasnya sama sekali. Beberapa benteng yang masih bisa disebut misalnya Benteng Van der Wijck di Kebumen, Benteng Willem di Ambarawa, Benteng Oranje di Semarang (sudah ruask parah), dan berbagai benteng di tempat lain.
Berikut ini disajikan denah atau plan gambar benteng yang akan didirikan di Klaten dan Pekalongan saat itu. Melihat plan tersebut tentu sudah bisa dibayangkan bagaimana kira-kira bentuk benteng tersebut. Ternyata bentuk masing-masing benteng antara yang satu dengan yang lain bisa sangat berbeda. Hal ini tentu didasarkan pada keletakan atau lahan yang akan ditempati benteng tersebut. Semuanya disesuaikan dengan hal itu.
Apakah benteng yang dibangun berdasarkan plan ini masih berdiri atau tidak, tidak ada informasi yang valid yang bisa didapatkan. Apakah benteng tersebut memang jadi didirikan atau tidak, juga belum diketahui dengan pasti. Hanya saja plan ini telah menunjukkan bahwa Belanda memang serius betul dalam menangani perang yang terjadi waktu itu. Plan-plan semacam ini juga menunjukkan bagaimana rapi dan telitinya Belanda dalam menangani kasus atau hal-hal yang mesti dihadapinya. Perancangan yang matang dengan melihat kondisi atau kenyataan di lapangan akan menunjang tingkat keberhasilan tujuan menjadi lebih besar dan meyakinkan. Terbukti benteng stelsel memang berhasil memutus sekian banyak jaringan informasi dan pergerakan pasukan Diponegoro. Pemecahbelahan wilayah dengan sistem benteng stelsel ini berperan besar dalam menunjang pelemahan kekuatan Diponegoro.



KUDA DI ZAMAN PERANG DIPONEGORO (1825-1830)


KUDA DI ZAMAN PERANG DIPONEGORO (1825-1830)




KUDA DI ZAMAN PERANG DIPONEGORO (1825-1830)
Tampaknya binatang kuda menjadi salah satu binatang yang sangat dekat dengan kehidupan manusia di samping sapi, kerbau, kambing, dan ayam. Saking dekatnya, orang Jawa bahkan kemudian membuat suatu rumusan-rumusan tertentu tentang kuda yang kemudian dikenal sebagai katuranggan. Katuranggan memiliki akar kata turangga yang berarti kuda. Katuranggan sendiri boleh disebut sebagai ilmu tentang kuda.
Kita tidak akan membicarakan tentang katuranggan, namun tentang nilai pentingnya binatang kuda bagi manusia ketika kendaraan bermesin belum ditemukan atau marak seperti zaman ini. Pihak Belanda yang mendapatkan perlawanan hebat dari Pangeran Diponegoro juga mengerti benar nilai pentingnya kuda dalam menghadapi perang ini. Kuda sebagai kendaraan utama di zaman itu menjadi inti dari pasukan kavaleri. Kepiawaian mengendalikan kuda dalam medan perang menjadi faktor penentu kemenangan bagi pasukan berkuda (kavaleri).
Dalam gambar berikut ditampilkan dua ekor kuda dan satu pengendara atau pemiliknya. Kuda yang berada di depan tampak lebih difungsikan sebagai pengangkut beban (alat perang). Sedang kuda yang dibelakangnya lebih berfungsi sebagai kuda tunggangan bagi prajurit.
Kuda yang lemah, tua, dan sakit-sakitan tentu saja tidak mendukung kesuksesan dalam tugas-tugas pasukan kavaleri. Oleh karena itu kuda-kuda tersebut harus mendapatkan perlakuan yang baik. Bahkan khusus. Berkaitan dengan hal itu pekathik atau tukang memelihara kuda di zaman itu memiliki peran yang penting. Orang-orang Belanda di zaman itu pun telah banyak yang mempekerjakan para pekathik itu.
Perang Jawa yang berlangsung sekitar 5 tahun (1825-1830) itu telah menelan sekian ribu nyawa, sekian harta benda, dan tentu sekian ratus atau sekian ribu ekor kuda. Tidak ada catatan tentang berapa jumlah kuda yang mati akibat perang itu. Jika hal itu ada tentu hal itu juga menarik mengingat kuda di zaman itu menjadi sarana vital bagi kelancaran operasi militer. Kuda di zaman itu sama nilainya dengan panser, tank, atau kendaraan lapis baja lainnya.
Nilai penting kuda dalam perang selain ditunjukkan dalam gambar tersebut juga dapat dilihat di Jatisarono, Nanggulan, Kulon Progo. Di wilayah itu ditemukan kuburan tokoh Belanda yang bernama Kapten Van Ingen. Van Ingen dikuburkan di tempat itu karena ia tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh pasukan Pangeran Diponegoro di bawah pimpinan Ali Basjah Sentot Prawirodirdjo. Kecuali kuburan Van Ingen di tempat itu juga ditemukan kuburan dari dua ekor kuda kesayangannya. Keletakan kuburannya berdampingan dengan kuburan Kapten Van Ingen sendiri. Dari sisi ini kelihatan semakin jelas bahwa kuda telah pernah berperan penting dalam kehidupan manusia. Entah itu untuk urusan transportsai yang bersifat militeristik, niaga, peternakan, pertanian, hobi, dan sebagainya.



SELARONG PADA ABAD 19


SELARONG PADA ABAD 19




SELARONG PADA ABAD 19
Daya upaya untuk segera menghentikan perlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) terus dilakukan pihak Belanda dengan berbagai cara. Penggambaran peta, wilayah, dan lain-lain yang bisa digunakan untuk “membaca” posisi lawan sangat diperhatikan oleh Belanda. Maklum dunia fotografi di zaman itu belum semaju sekarang.
Gambar berikut melukiskan situasi Selarong dan guanya pada abad tersebut yang disebut juga sebagai Gua Selarong atau Gua Secang. Gambar tangan yang lebih dekat dengan sketsa ini dalam sisi-sisi tertentu dapat menunjukkan detailnya. Detail dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan atau penekanan yang diperlukan pada saat itu. Jika kita perhatikan gambar tersebut kelihatan bahwa detail yang ingin dibidik setidaknya meliputi dua hal. Pertama adalah suasana atau gambaran tentang Bukit Selarong dengan suasana alam di sekitarnya. Kedua, posisi Gua Secang (Selarong) yang pernah menjadi (dan mungkin masih digunakan) oleh Pangeran Diponegoro sebagai tempat persembuyiannya. Gambaran seperti itu menjadi penting untuk dapat ”membaca” posisi atau tempat lawan.
Penggambaran situasi seperti dalam gambar itu akan ”memudahkan” pihak Belanda untuk memperkirakan pergerakan dan serangannya dalam menyerbu posisi lawannya. Sawah, kebun, tegalan, pemukiman penduduk, jalan setapak, jalan lebar, gua, bukit, dan sebagainya yang digambarkan dalam gambar itu dapat dijadikan sebagai tempat-tempat darurat untuk persembunyian, penyerangan, pertahanan, dan sebagainya.
Pada sisi-sisi tertentu gambar tangan/sketsa (hitam putih) dapat menampilkan titik-titik keindahannya tersendiri dibandingkan dengan foto yang menampilkan gambar lengkap seperti apa yang dibidiknya. Komposisi dari bentuk-bentuk aneka benda yang digambarkan membentuk harmoni yang padu. Keterangan melalui tulisan tangan pun dibuat menjadi satu goresan yang padu dengan style goresan gambarnya. Kepekaan estetis pembuat gambar serta kejeliannya dalam menggambarkan detail situasi dalam penggambaran menjadi unsur yang berperan penting dalam hal ini.



PENGANGKUT MERIAM PADA PERANG JAWA (1825-1830)


PENGANGKUT MERIAM PADA PERANG JAWA (1825-1830)




Perang Diponegoro yang dikenal pula sebagai Perang Jawa atau de Java Oorlog (1825-1830) telah menorehkan banyak kisah pahit getir Jawa waktu itu. Tak ayal perang ini telah menewaskan 200.000-an orang Jawa, 8.000-an prajurit Eropa, 7.000 prajurit pribumi. Perang ini telah banyak menyita sekian banyak tenaga, biaya, nyawa, dan harta benda di kedua belah pihak. Bahkan Belanda mengalami krisis uang kas karena perang yang berkepanjangan yang dikobarkan dari Yogyakarta ini.
Kita tidak bisa menggambarkan bagaimana suasana perang di zaman itu mengingat dokumentasi foto situasi pertempuran waktu boleh dikatakan tidak ada. Kita hanya bisa merekonstruksi berdasarkan catatan tertulis, peta-peta kuno, gambar-gambar kuno yang sebagian besar dimiliki dan dibuat oleh bangsa Belanda (Eropa). Kita juga tidak bisa menggambarkan bagaimana kira-kira wujud konvoi atau barisan prajurit ketika maju ke medan perang bersama peralatannya yang nota bene belum bermesin. Meriam-meriam diangkut dengan tenaga kuda atau bahkan sapi. Demikian pula logistik hampir semuanya diangkut dengan kendaraan berupa kuda, gerobak, cikar, bahkan dipikul atau digendong.
Medan yang sulit, cuaca yang tidak bersahabat, peralatan yang sederhana cukup menyita waktu dan tenaga para pelaku perang. Dalam kondisi seperti ini tenaga manusia dan binatang seperti kuda menjadi andalan utama. Gambar yang disajikan berikut ini melukiskan tentang kuda-kuda yang digunakan untuk mengangkut meriam ketika Perang Diponegoro terjadi. Gambar ini dibuat oleh pihak Belanda. Kemungkinan besar gambar dibuat pada waktu perang tersebut terjadi. Mungkin, pada masanya hal semacam itu akan mudah sekali dilihat atau ditemukan di seputaran Yogyakarta maupun Jawa pada umumnya.
Melihat perbandingan antara gambar kuda dan gambar meriamnya, kelihatan bahwa meriam tersebut tidaklah terlalu besar. Artinya, meriam tersebut tidak terlampau berat. Sekalipun demikian, diperlukan dua ekor kuda untuk menyeretnya di atas gerobak (wadah meriamnya). Menyimak kondisi semacam itu dapat diketahui bahwa meriam tersebut cukup ringan dan mudah dibawa kemana-mana. Senjata berupa meriam merupakan senjata yang efektif pada masa itu terutama dalam perang-perang frontal dan terbuka. Daya jangkau dan daya bunuh serta perusaknya yang cukup kuat dibandingkan lontaran panah, tombak, dan lembing cukup menggentarkan orang.
Gambar tersebut menegaskan bagaimana pihak Belanda mempersiapkan diri, melengkapi diri dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi pihak Diponegoro. Persenjataan dan alat angkut semacam itu pada masa sekarang mungkin sudah tidak akan dapat kita temui lagi karena semuanya telah digantikan mesin, komputer (elektronik). Era modern telah membuat semuanya serba cepat, praktis, dan mudah. Pada zamannya, situasi yang dilukiskan oleh gambar itu mungkin juga sudah mewakili kemudahan, kecepatan, dan kepraktisan dalam berkiprah perang saat itu.












1 komentar:

soedwiw@gmail.com mengatakan...

Salut,... gambar-gambar sebagai dokumen penting. Sebagai orang Klaten, mohon informasi sumber gambar "GAMBAR DENAH BENTENG DALAM STRATEGI BENTENG STELSEL BELANDA" dan apakah pada sumber tersebut ada penjelasan lebih lanjut tentang Benteng di Klaten? Terima kasih

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification